Acara bertajuk ”Colors of Indonesia” itu merupakan kerja sama antara Yayasan Sulam Indonesia (YSI) dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, beserta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo. Ketua YSI Trisna Jero Wacik mengatakan, acara yang baru pertama kali diadakan YSI itu tidak disangka akan mendapat respons begitu bagus dari masyarakat Jepang.
”Kami baru pertama kali mengadakan acara ini di Jepang, dan responsnya sangat positif. Padahal, tadinya kami sempat khawatir karena masyarakat Jepang sangat kritis terhadap kualitas, tapi ternyata mode dan produk kerajinan Indonesia bisa memenuhi ekspektasi kualitas yang tinggi di Jepang,” ujar Trisna dalam acara ”Colors of Indonesia” yang dihelat di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Keterkejutan serupa juga diungkapkan Didi Budiardjo, seorang desainer yang ikut mempresentasikan koleksinya di KBRI Tokyo pada 13-14 Februari lalu. ”Saya merasa terharu karena respons mereka begitu spontan dan sangat menghargai budaya Indonesia. Saya malah sudah mendapat beberapa undangan untuk kembali menampilkan koleksi dari sekolah mode, juga yayasan asosiasi Indonesia-Jepang,” kata Didi.
Di Jepang, tepatnya di KBRI Tokyo, YSI menggelar pameran kain tradisional, kerajinan sulam, dan perhiasan etnik, juga fashion show ”Colors of Indonesia” dari Thomas Sigar dan Didi Budiardjo. Untuk acara tersebut, Thomas memboyong kain tenun Minahasa yang hampir hilang tergerus waktu. Selain memamerkan kain-kain cantik bermotif kuno yang berusia ribuan tahun, Thomas juga menyuguhkan ragam busana kontemporer bermaterialkan kain etnik. Ada tiga motif yang ditampilkan Thomas dalam pergelaran tersebut. Yakni, motif Pinawetengan, motif Pina Tembega, dan motif Pina Bia.
”Motif ini kami modifikasi menjadi motif-motif asli Minahasa yang kami sebut sebagai motif Pinatikan,” tuturnya.
Thomas menjelaskan, Tembega merupakan perhiasan asli Minahasa yang motifnya dimasukkan ke dalam kain. ”Pada zaman dulu tembaga menjadi kekuatan ketika berperang. Saat itu, wanita memegang peranan penting,” sebut Thomas, yang dalam acara tersebut membawa tulang gigi babi rusa sebagai hiasan kepala.
”Tulang itu merupakan lambang keperkasaan saat berperang,” imbuhnya.
Adapun untuk motif Pina Bia, lanjut Thomas, bia berarti ”kerang”. ”Minahasa terkenal sekali dengan pesisirnya, di sana kerang-kerang menjadi salah satu andalan Minahasa untuk menarik wisatawan. Itu kami tampilkan juga dalam motif Pina Bia,” jelasnya.
Di tangan Thomas, kain tenun Pinawetengan, Pina Tembega, dan Pina Bia dari Minahasa berevolusi menjadi gaun-gaun apik bergaya kini yang dipercantik dengan aksen draperi, pita, dan teknik origami. Beberapa gaun hadir berpotongan pendek untuk menunjukkan sisi modern, sementara sebuah gaun hadir dalam potongan kimono yang dipasangkan dengan kimono bergaya maskulin untuk pria.
Napas feminin ditiupkan Thomas melalui aksen smock, volume, serta gelepai anggun. Lainnya, perancang yang bekerja sama dengan PT Bilina Bina Cendekia (BBC) untuk menghidupkan kembali kain tenun Minahasa itu memberikan coat transparan atau potongan berpunggung terbuka untuk menyelipkan gaya urban dalam koleksi etnik-kontemporer miliknya.
Kontras dengan rancangan Thomas yang berkesan anggun, Didi Budiardjo justru mendobrak tradisi dengan menyajikan motif batik klasik dalam gaya ”rebel” ala Harajuku.
”Ada yang menarik dengan mengombinasikan gaya Jepang yang rebelious dengan citra klasik batik,” sebut Didi, yang mempersembahkan tiga tema untuk khalayak mode Jepang, Gosuloli, Apokayan, dan koleksi serbaputih yang terinspirasi dari baju Bugis. Koleksi pertama yang bertema Gosuloli, menurut Didi, merupakan singkatan dari Gothic Lolita, salah satu gaya Harajuku yang digemari kaum muda Jepang.
”Gotik identik dengan warna gelap, sementara lolita itu manis seperti busana anak-anak. Saya menggunakan batik sogan dari Yogyakarta yang memang berwarna gelap dan mengemasnya dalam napas muda,” papar Didi, yang mengetengahkan sequin, bulu berwarna-warni, serta potongan ala cape untuk melengkapi koleksinya yang didominasi mini dress.
Tema kedua, Apokayan, dijelaskan Didi, diadaptasinya dari budaya suku Dayak Kenyah yang tinggal di sekitar Sungai Kayan, Kalimantan. Karenanya, tidak heran bila Didi banyak menampilkan seni merangkai manik-manik dengan palet cerah yang memang merupakan ciri khas suku Dayak.
”Untuk kain, saya banyak menggunakan kain tenun ikat yang sudah saya olah,” tuturnya. Ada yang unik dari seri Apokayan besutan Didi.
Para modelnya yang dibalut gaun bernapas etnik tampil dengan helm bergaya futuristik dari peniti. Didi mengatakan, helm tersebut merupakan simbol pelindung. ”Peniti itu kan safety pin, begitu juga helm yang melindungi kepala. Itu adalah simbol perlindungan dari budaya asing yang merangsek masuk ke dalam budaya kita,” tuturnya.
Terakhir, rancangan ketiga yang tampil serbaputih merupakan koleksi Didi untuk Paris Pret-a-Porter Spring/Summer 2010. ”Inspirasi bajunya dari baju bodho. Jadi geometrikal bentuknya,” kata dia, sembari menyebut tenunan dalam koleksinya merupakan paduan dari tenun Majalaya, tenun Bugis, dan tenun Jepara. Didi menambahkan, koleksi terakhirnya bertema ”Suatu Ketika di Timur”.
Menurut dia, rancangan tersebut diilhami kedatangan James Brooke ke Makassar, Sulawesi Selatan, sekitar satu setengah abad silam. Saat itu, orang Bugis menanyakan pada Brooke bagaimana kabar Napoleon setelah digulingkan. ”Ini sesuatu yang menarik karena tahun segitu orang sudah peduli akan isu-isu internasional. Dan, kebetulan saya bawa ke Paris sehingga saya pikir Makassar dan Prancis itu bisa menyatu,” ujarnya.
(Koran SI/Koran SI/tty)